Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti...
Teruntuk seseorang yang pernah kecewa dengan tingkahku selama ini,
Untuk dia terus berdiam diri
Untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini dan namaku dihatinya,
Assalammu'alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti...
Lama kita tak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama.
Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkanlah aku yang tak pernah mengerti cara yang dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu.
Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata "maaf" ini.
Maka maafkanlah aku...
Apakah engkau harus terus memegang kata: "Tidaklah mudah untuk memaafkan!"
Bukankah Allah saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku ataupun engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
Janganlah mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah mudah membenci sesuatu.
Hal yang kau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat dimata Allah.
"dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil".
ILUSI:
Read More..
Teruntuk seseorang yang pernah kecewa dengan tingkahku selama ini,
Untuk dia terus berdiam diri
Untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini dan namaku dihatinya,
Assalammu'alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti...
Lama kita tak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama.
Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkanlah aku yang tak pernah mengerti cara yang dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu.
Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata "maaf" ini.
Maka maafkanlah aku...
Apakah engkau harus terus memegang kata: "Tidaklah mudah untuk memaafkan!"
Bukankah Allah saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku ataupun engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
Janganlah mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah mudah membenci sesuatu.
Hal yang kau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat dimata Allah.
"dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil".
ILUSI:
“ Aku pernah
memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu ku sayang. Kemana aku pergi domba
itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu
hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel.
Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa
tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku
tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis
sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas
menemaninya, padahal aku ikhlas.”
Dan aku pun
tersenyum mendengar kisahmu.
Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?”
Kau pun
ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!”
Tahukah
engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang
dialami oleh domba itu.
Terlalu
sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana
domba dalam ceritamu?
Janganlah
engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat
kezaliman kaumnya dan Allah SWT pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya
dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan
tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”
Dulu kita
pernah berteman baik, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam
tiap-tiap bualanmu.
Dulu engkau
begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun
memberikannya.
Dulu, kita
berdua begitu baik ada ikatan yang tak terelakan.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
Sedari awal,
aku telah memaafkanmu.
Bahkan aku
merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku.
Aku yang
memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita.
Badai dingin
yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.
Jangan takut
jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul.
Aku bukanlah
seorang baiquni seperti yang dulu lagi.
Aku telah
mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai.
Mengapa
setelah habis cinta timbul beribu kebencian.
Mengapa
tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf.
Jujur, bukan
dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga.
Namun aku
mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Andai engkau
tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Pernahkah
engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak
dihadapanmu. Pernahkah?
Mungkin
dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi.
Seseorang
yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir
betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina.
Bahkan
setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
Sudah
menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.
Tahukah
wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis
ini.
Betapa aku
seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk.
Apakah
engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
Tak pernah
ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan.
Tidak aku,
tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti.
Maka,
bukalah pintu maafmu itu..
Tidak ada
derita yg abadi..
Sama halnya
tidak ada bahagia yg abadi..
Tidak akan
ada derita, dan kebahagiaan yg abadi hanya kita dapat di surga.
Untuk surat
ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk
segala sesuatu tentang kita, aku memohon maaf.
Home

